HARAPAN BAGI KAMI

Karya: Dwi Anggraini Purba Wardhani, siswa kelas XII MIPA 2

Aku ingin menceritakan sedikit perjalanan hidupku. Awal dari perubahan yang tidak hanya berdampak pada diriku sendiri, namun pada orang di sekitarku juga.

===

Sejuknya embun masih terasa, dedaunan  masih basah karena tetesan embun dan segarnya udara mengawali rutinitasku hari ini. Di saat matahari bahkan masih malu-malu untuk menampakkan dirinya dan di saat anak-anak seumuranku masih tertidur lelap di pelukan orangtua mereka, di sinilah aku. Di tempat yang bisa dibilang kumuh dan dikelilingi banyak sampah. Perjalananku ditemani oleh aroma basah embun bercampur dengan aroma kurang sedap yang ditimbulkan oleh sampah- sampah disekitarku.

Namaku Laras, usiaku tujuh tahun. Di usiaku seharusnya aku tidak memikirkan hal selain bermain. Bukannya tidak bersyukur dengan keadaan yang sudah ditakdirkan untukku, namun ketika melihat anak-anak bermain tanpa ada beban yang terlihat di wajah mereka sungguh aku ingin merasakannya juga!

Karung goni yang kubawa sudah hampir penuh dan terasa berat, itu artinya aku sudah bisa menukarkannya dengan uang, semoga kali ini hasil yang kudapatkan bisa untuk makan keluargaku.

“Wah, banyak juga yang kamu ngambil hari ini, ras!” ucap orang itu sambil menimbang sampah yang tadi sudah kukumpulkan.

“Alhamdulillah Ko, hari ini dapat banyak barang bagus juga” jawabku yang sudah tidak sabar untuk menerima uang setelah sampah yang kukumpulkan tadi kuantarkan ke tengkulak.

“Ini Laras, uangnya” ucap orang itu sambil menyodorkan uang sepuluh ribu rupiah kepadaku.

“Terima kasih, Ko!” jawabku dengan riang.

Aku berjalan pulang dengan perasaan yang senang, sepuluh ribu sudah berada di genggaman tanganku. Walaupun bagi kalian ini jumlah yang sedikit, tetapi dengan keadaanku, aku merasa seperti orang kaya. Bilang saja aku berlebihan atau apa pun itu, belum tentu anak seusiaku di luaran sana bisa menghasilkan uang sendiri seperti yang kulakukan sekarang ini. Dengan penampilanku yang lusuh dan baju yang kebesaran di badanku yang kurus ini, aku berjalan cepat, karena sudah tidak sabar untuk sampai ke rumahku.

Keluargaku tidak berasal dari lingkungan yang berada, kami hidup dengan sangat sederhana. Ayahku nelayan sedangkan ibuku membantu ayahku untuk menjual ikan di pasar. Tidak jauh berbeda dengan rutinitas yang kulakukan untuk mengawali hariku, yaitu mencari sampah. Tempat tinggalku berada di kawasan kumuh dengan adanya sampah yang menumpuk di lingkungan tempat tinggal kami.

Aku yang berusia tujuh tahun ini, sebenarnya ingin sekali bersekolah namun apa dayaku, mendapatkan uang dan bisa makan hari ini saja sudah cukup. Orangtua ku tidak sanggup membiayai sekolahku. Karena itulah aku memutuskan untuk membantu mereka dengan mengumpulkan sampah-sampah. Tetapi saat aku mempunyai waktu luang, aku belajar sendiri dengan menggunakan buku bekas yang kudapatkan dari orang baik yang menyumbang peralatan sekolahnya kepada kami yang kurang beruntung ini.

Sampai suatu hari, saat aku sudah selesai melakukan rutinitasku dan bergegas pulang. Tetapi, dalam perjalanan pulang, aku melihat orang-orang begitu ramai. Lingkunganku memang biasanya ramai tetapi kali ini keramaian itu terlhat berbeda dari biasanya. Orang-orang terlihat mengerumuni seorang pria dan karena rasa penasaranku yang cukup besar aku mendesak masuk ke dalam kerumunan itu. Beruntung, aku memiliki badan yang kurus sehingga memudahkanku untuk masuk ke kerumunan tersebut. Setelah berhasil masuk ke kerumunan tersebut terlihat seorang pria tegap dengan pakaian yang rapi dan bersih. Pria tersebut terlihat diikuti oleh  orang yang sedang menanyakan beberapa pertanyaan kepada nya dan juga beberapa orang yang membawa benda yang terlihat asing dimataku. Benda itu terlihat cukup besar dan berwarna hitam. Oh, aku ingat! Benda itu pernah kulihat di bukuku, benda itu adalah kamera. Pria yang kulihat tadi terlihat berbicara sambil terus melihat kearah kamera itu. Aku merasa bingung.

‘’Sebenarnya apa gerangan yang sedang terjadi disini ?” begitu batinku.

Setelah itu aku mendengar teriakan orang-orang menyerukan nama seseorang. Aku tidak tahu itu nama siapa, tetapi sepertinya nama itu nama pria yang sedang berada di tengah kerumunan ini. Sementara aku disini masih mematung dan bingung dengan apa yang terjadi disini. Orang-orang terlihat begitu senang dengan kedatangan pria ini.

“Alhamdulillah, keadaan kita akan mulai membaik mulai sekarang!” ujar tetanggaku, Bu Asih

Segera setelah kerumunan itu berkurang dan pria itu hendak pergi meninggalkan lingkungan tempat tinggalku, aku bergegas menanyakan apa yang sejak tadi menjadi pertanyaan besar bagiku. Aku pun segera bertanya kepada bu Asih.

“Bu, sebenarnya apa yang terjadi?”  tanyaku kebingungan.

“Kamu harus bersyukur Laras, pria tadi akan mengubah hidup kita!” jawab bu Asih .

‘’Mengubah apa maksud ibu?” tanyaku kembali.

“Keadaan kita bisa mulai berubah saat ini, jika kita memilih dia” jawab bu Asih.

“Memilih dia bagaimana maksudnya bu?” tanyaku

“Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti Laras, suatu saat pasti kamu akan mengerti” Jawab Bu Asih

Aku terdiam. Bukannya puas akan jawaban Bu Asih tetapi aku malah semakin bingung. Masih banyak pertanyaan yang berputar di dalam kepalaku. Saking banyaknya, pertanyaan tersebut tidak bisa kutanyakan kepada Bu Asih.

“Siapa gerangan pria itu?”

“Mengapa orang-orang terlihat senang sekali?”

“Mengubah keadaan bagaimana?”

“Memilih dia untuk apa?” dan masih banyak lagi yang ingin kutanyakan.

Cukup lama aku terdiam dalam lamunanku disini. Setelah tersadar dari lamunanku aku segera melanjutkan perjalanan pulang. Sesampainya di rumah, aku segera bertanya pada ayah yang kebetulan tidak pergi melaut hari itu.

“Ayah tadi aku melihat kerumunan orang yang sedang melihat seorang pria, apakah ayah tau tentang hal itu?” tanyaku pada ayah.

“Tentu saja, daritadi tetangga kita sudah ramai membicarakannya” jawab Ayah.

“Apakah ayah tau dia siapa dan mengapa orang-orang terlihat sangat senang dengan kedatangannya kemari?” Tanyaku panjang lebar

“Pria itu merupakan calon legislatif dan orang-orang terlihat senang karena mereka percaya orang itu bisa mengubah keadaan para rakyat kecil seperti kita” jawab Ayah dengan sabar.

“Apa itu calon legislatif?” tanyaku kembali.

“Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti dan sebaiknya kita jangan terlalu percaya kepada orang-orang seperti itu” jawab ayah sembari menunjukkan raut wajahnya yang kecewa.

Rasa penasaranku terjawab kali ini tetapi muncul pertanyaan baru di dalam benakku.

“Mengapa raut wajah ayah terlihat kecewa? Atau hanya perasaanku saja?” batinku.

Aku mencuri dengar saat orang-orang sedang berbicara bahwa pria itu terpilih menjadi calon legislatif. Tetapi sudah kutunggu- tunggu perubahan yang mereka katakan hari itu tak kunjung terlaksana juga. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun.setahun sudah berlalu Tetapi menurutku keadaan tetap sama, tidak ada yang berubah. Aku masih ingat betul kata orang-orang, pria itu akan mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Tetapi, aku tetap harus memungut sampah setiap hari, ayah tetap harus melaut dan ibu juga harus tetap berjualan ikan di pasar dan lingkungan tempat tinggal kami pun tetap sama seperti dulu, tidak layak ditinggali!

“Apanya yang berubah?” tanyaku dalam hati.

===

Sebulan sejak kejadian itu, ada seorang guru honorer yang berhati malaikat bernama pak Darmawan. Beliau menjadikan gubuk kecil di dekat sungai yang berada di dekat tempat tinggalku sebagai perpustakaan sederhana. Buku buku itu merupakan buku bekas dari perpustakaan tempat Pak Darmawan mengajar. Buku itu beliau bawa dan perbaiki lalu ditaruh di gubuk agar bisa di baca kembali. Gubuk itu baru dijadikan perpustakaan oleh pak Darmawan tiga hari yang lalu. Aku sangat senang pergi ke perpustakaan itu bersama dengan teman-teman yang memiliki nasib yang sama denganku. Selain dijadikan perpustakaan, Pak Darmawan juga sering mengajari kami yang tidak bisa sekolah atau putus sekolah karena keadaan. Beliau melakukan ini dengan sukarela. Sejauh ini beliau sudah mengajari kami cara membaca, menulis, dan menghitung hitungan dasar seperti pertambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Selain pelajaran umum kami juga diajarkan membuat kerajinan dari barang-barang bekas.

Buku-buku yang ada di dalam perpustakaan itu sering kupinjam untuk dibawa pulang agar aku bisa mengulang materi yang diberikan oleh Pak Darmawan. Beliau merupakan orang yang sangat baik, terkadang buku yang ada di perpustakaan diberikannya padaku untuk membantuku belajar. Beliau sering berkata padaku bahwa aku harus rajin membaca karena membaca merupakan jembatan ilmu dan dari membaca kita juga akan menjadi orang yang berwawasan luas.

Beliau merupakan orang yang sangat baik. Pernah sekali aku bertanya pada beliau apa yang membuat beliau sangat dermawan seperti ini, dan beliau menjawab pertanyaan yang kuberikan dengan jawaban yang akan kuingat sampai nanti.

“Jangan berbuat baik hanya karena kamu bisa dan ingin berbuat baik, tetapi berbuat baiklah di setiap kesempatan yang kamu punya, karena kebaikan apa pun yang kamu tebar hari ini akan menjelma berkali-kali lipat anugrah suatu saat nanti” begitu ujar Pak Darmawan

Bertahun-tahun telah berlalu. Aku pun sudah beranjak dewasa. Berkat ilmu, kebaikan dan nasihat nasihat yang beliau berikan aku bisa masuk universitas ternama. Aku masuk berkat beasiswa dan beliau juga membantuku mencari informasi mengenai beasiswa itu. Kebaikan dan nasihat beliau mengenai rajin belajar dan berbuat baik akan kuingat dan kulaksanakan.

Awalnya, sangat berat bagiku untuk masuk universitas tesebut karena aku harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru saja aku masuki. Tetapi lama kelamaan aku terbiasa dan mulai bisa menyesuaikan diri di lingkungan tersebut.

Tiga tahun sudah kulalui di universitas ini dan artinya sebentar lagi aku lulus. Aku diberikan tugas akhir untuk syarat kelulusanku berupa proyek kerja. Aku teringat lingkungan tempat tinggalku. Karena lingkungan ku merupakan lingkungan yang tidak layak ditinggali akhirnya aku membuat proyek kerja disana. Aku membuat proyek kerja untuk membangun kesejahteraan warga di lingkungan tempat tinggalku. Sedikit demi sedikit proyek kerja yang kubuat mulai membuahkan hasil, perekonomian di lingkungan tempat tinggalku mulai membaik. Proyek kerja yang kulakukan di sini bisa dibilang berhasil.

Hari kelulusan telah tiba, ayah dan ibuku menangis terharu akan keberhasilanku. Aku pun juga berterimakasih kepada mereka karena doa mereka aku bisa sampai disini. Setelah itu, aku diterima bekerja di suatu perusahaan. Hidupku dan keluargaku berangsur-angsur mulai membaik. Aku dan keluargaku sudah tidak tinggal di tempat tinggalku yang dulu.

Suatu hari aku memutuskan untuk mendatangi lingkungan tempat tinggalku yang dulu. Ternyata lingkungan tempat tinggalku sekarang sudah berubah. Berubah menjadi yang lebih baik tentunya. Lingkungan yang dulu kumuh dan terlihat sampah dimana-mana sekarang sudah terlihat bersih. Tentunya aku tidak lupa mengunjungi Pak darmawan yang sudah sangat berjasa padaku. Gubuk kecil yang dulu menjadi tempat aku menuntut ilmu sekarang sudah menjadi perpustakaan umum. Kegiatan belajar mengajar pun masih tetap berlangsung disana. Yang terlihat berbeda disini selain tempat yang sudah direnovasi adalah murid yang bertambah banyak dan juga guru sukarelawan yang bertambah banyak.

Kisahku bukanlah kisah yang langka di negeri ini. Kami meruoakan korban keserakahan para pemimpin yang egois. Mereka merenggut masa bermain kami, keluarga kami berpenghunikan rumah yang kumuh. Andai saat itu aku bisa membuat harapan, aku hanya ingin merasakan hidup seperti anak kecil lainnya yang seumuran denganku. Bersekolah dengan layak, bermain dengan teman sebaya, bermanja-manja dengan orangtua adalah hal yang saat itu ingin sekali kurasakan. Namun, aku tak berdaya saat itu, aku tak mampu menyuarakan hak yang seharusnya kudapatkan. Tetapi sekalipun aku dapat menjerit, meronta, dan menangis sekencang-kencangnya tidak aka nada telinga yang mampu mendengarkan kisahku. Karena telinga itu seakan-akan tuli, mata itu seakan tidak dapat melihat penderitaan yang kurasakan. Kisahku ini akan terus menjadi cerita di negeri ini jika para koruptor terus berkuasa, selama para pemimpin serakah it uterus membodohi rakyat biasa dengan ratusan janji manis yang keluar dari mulut mereka yang satu pun tiada nyata.

Mungkin saat itu aku beruntung bisa bertemu Pak Darmawan yang begitu baik hati sehingga aku dapat merubah nasibku ini menjadi lebih baik. Kita semua harus berusaha menjadi orang yang baik. Jika kita tidak dapat menemukan orang baik, jadilah orang baik itu sendiri dan halangan seperti apa pun yang berada di depan kalian, pasti bisa kalian lewati. Teruskanlah langkah kalian, pasti kalian bisa mancapai prestasi sesuai bidang yang kalian inginkan.

Juara 1 Cerpen Gelar Karya dan Prestasi 2020

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *